Senin, 10 Maret 2025

Teks Biografi Dokter Sutomo, Pahlawan Nasional Asal Nganjuk yang Menggagas Berdirinya Budi Utomo


Sutomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888, dengan nama kecil Soebroto. Sutomo lahir dari keluarga priyayi zaman itu. Ayahnya bernama Raden Suwaji seorang pegawai pangreh yang berpikiran maju dan modern. Sementara kakeknya bernama Raden Ngabehi Singawijaya atau KH Abdurrakhman. Dari kakeknya ini Sutomo dididik untuk menjadi seorang yang taat beragama, rajin beribadah, dan memiliki pendirian yang teguh. Memasuki usia 6 tahun, Sutomo dan keluarganya pindah ke Madiun. Di sana dia sekolah di Sekolah Rendah Bumiputera, Maospati Madiun. Berikutnya, Sutomo melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Bangil, Jawa Timur. Di sekolah menengah inilah Sutomo mengganti namanya dari yang awalnya Soebroto menjadi Sutomo. Lulus dari ELS, Sutomo berkesempatan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Dokter Bumiputera atau STOVIA di Batavia.

Sutomo resmi menjadi siswa di STOVIA pada tanggal 10 Januari 1903. Saat itu usianya genap 15 tahun. Konon, Sutomo pada awal masa pendidikannya dikenal sebagai sosok yang berani, malas belajar, dan suka mencari masalah. Kondisi tersebut membuat hasil belajar Sutomo kurang memuaskan pada tahun-tahun awal di STOVIA. Namun sikap Sutomo berubah drastis memasuki tahun keempat dia di sekolah tersebut. Perubahan sikap dan cara hidup Sutomo ke arah yang lebih baik semakin menjadi saat ayahnya meninggal dunia pada 28 Juli 1907. Sejak itu, Sutomo menjadi sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Pada saat-saat itu, Sutomo berjumpa dengan Dokter Wahidin Sudirohusodo yang merupakan alumni STOVIA. Dokter Wahidin saat itu berkunjung ke STOVIA dan bertemu dengan para mahasiswa, termasuk Sutomo. Dalam pertemuan itu, Dokter Wahidin mengemukakan gagasannya untuk mendirikan organisasi yang jadi wadah untuk mengangkat derajat bangsa.

Gagasan Dokter Wahidin itu ditangkap dan terus direnungkan oleh Sutomo. Berikutnya, Sutomo bersama dengan mahasiswa lain seperti Gunawan Mangunkusumo dan Soeradji Tirtonegoro secara intens melakukan diskusi. Hingga akhirnya Sutomo dan dua orang itu mengadakan pertemuan dengan mahasiswa STOVIA lainnya untuk membahas pendirian organisasi. Pertemuan dilakukan di Ruang Anatomi STOVIA, dan menghasilkan pendirian organisasi bernama Perkumpulan Budi Utomo. Maka Budi Utomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Tanggal itu hingga kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dokter Sutomo merampungkan studinya di STOVIA pada tahun 1911.

Sejak saat itu, Sutomo resmi menjadi dokter dan berpindah-pindah tugas dari satu daerah ke daerah lain. Sutomo juga tercatat sebagai salah satu tenaga medis yang menangani wabah pes di Malang. Dalam menjalankan tugas mengobati rakyat, Sutomo tidak pernah memungut biaya pengobatan. Pada tahun 1917, Sutomo menikah dengan seorang perawat Belanda. Dua tahun kemudian, dia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi hingga tahun 1923. Di Belanda, Sutomo bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian menjelma menjadi Perhimpunan Indonesia. Bahkan dalam periode 1920-1921, Dokter Sutomo dipercaya untuk memimpin Perhimpunan Indonesia. Sepulangnya ke Tanah Air, Sutomo bekerja sebagai dosen di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), di Surabaya. Sutomo juga mendirikan Indonesian Study Club (ISC) pada tahun 1924. ISC mengalami perkembangan pesat sejak didirikan. Maka pada tahun 1930, namanya diganti menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Melalui PBI, Sutomo banyak membantu rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka. Namun Sutomo tidak sempat menyaksikan bangsa merdeka dan terbebas dari penjajah. Dokter Sutomo meninggal dunia pada 30 Mei 1938. Dia dimakamkan di Bubutan, Surabaya. Untuk mengenang jasa-jasanya, Dokter Sutomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.


 

Teks Biografi : Kisah Sukses Pendiri Ruangguru, Iman Usman

Muhammad Iman Usman (lahir di Padang, 21 Desember 1991) adalah seorang aktivis sosial, penulis, dan pembicara publik di berbagai forum nasional maupun internasional. Ia juga dikenal sebagai Duta Muda ASEAN untuk Indonesia dan pendiri Indonesian Future Leaders, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pemberdayaan pemuda di Indonesia. Saat ini, ia aktif memimpin perusahan startup di bidang pendidikan dan teknologi, Ruangguru.  Pada usia sepuluh tahun, ia telah memulai aktivitas sosial dengan membuka perpustakaan gratis bagi anak-anak tidak mampu yang bermodalkan menaruh rak buku di teras rumahnya.  Hal ini bermula dari keprihatinannya melihat anak-anak dari keluarga mampu yang menyia-nyiakan buku yang mereka miliki, sementara banyak anak dari keluarga tidak mampu yang ingin membaca buku namun tidak memiliki buku. Kegiatan ini mendapat sambutan positif.  Lambat laun, ia menerima beberapa sumbangan buku untuk dibaca anak-anak lainnya.

Berawal dari aktivitas sosialnya sejak kecil, ia diganjar beberapa penghargaan bergengsi terutama dalam aktivitasnya memperjuangkan hak-hak anak dan dialog antarbudaya. Selain itu, ia sendiri adalah penggemar Harry Potter “garis keras”. Dia betah menghabiskan waktu berselancar di dunia maya, chatting dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia lain di komunitas pecinta Harry Potter, dan memainkan gim dari adaptasi novelnya. Karena tidak sabar menunggu novel versi terjemahan, ia memaksakan diri untuk belajar bahasa Inggris secara otodidak demi bisa membaca novel Harry Potter versi bahasa Inggris. Hal itu pula yang memunculkan passion mengajar dalam diri Iman. Ia juga tidak menyangkal bahwa Harry Potter berpengaruh besar terhadap dirinya ketika ia beranjak dewasa.

Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia menggandeng rekannya, Adamas Belva Devara, untuk membangun sebuah platform daring yang bergerak di bidang pendidikan dan teknologi. Sudah sejak lama ia prihatin dengan kondisi pendidikan Indonesia yang masih rendah performanya dalam peringkat pendidikan global, contohnya dalam studi PISA (Programme for International Student Assassment). Selain itu, ia melihat bahwa kualitas guru yang tidak merata di Indonesia menjadi penyebab sebagian besar orang tua memberikan bimbingan belajar tambahan di luar sekolah bagi anak-anak mereka. Guru privat pun lebih banyak diminati oleh siswa karena mereka merasa lebih nyaman untuk berdiskusi dengan guru yang lebih muda daripada guru yang biasa mengajar mereka di sekolah. Iman dan Belva sendiri memiliki pengalaman pribadi ketika ingin belajar TOEFL secara privat, mereka masih kesulitan harus mencari dimana guru privat yang berkualitas dan fleksibel dengan jadwal kegiatan sehari-hari.

Berangkat dari permasalahan itu, pemuda yang pernah mendapat penghargaan 30 Under 30 Forbes Asia 2017 ini, akhirnya meluncurkan sebuah startup di sektor pendidikan yang ditujukan untuk individu. Perusahaan tersebut diberi nama Ruangguru.com yang memberi layanan bimbingan belajar daring bagi pelajar SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Lewat berbagai prestasi dan karyanya, Iman membuktikan bahwa kesuksesan karir dan berdampak sosial bisa berjalan beriringan. Di usianya yang baru 27 tahun, Iman sudah mendirikan perusahaan teknologi pendidikan yang kini mempekerjakan ribuan pegawai.

Menjalankan berbagai organisasi dan inisiatif sosial, menjadi pembicara dan pengajar di berbagai penjuru dunia, dan meraih gelar master di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Prestasi dan pola pikirnya memang jauh melampaui usianya. Tapi itu semua tidak diraih dengan mudah dan hingga hari ini pun ia masih belajar. Lewat buku ini, Iman berbagi cerita perjalanan hidupnya – menemui berbagai hambatan dan penolakan – dan bagaimana proses belajar tanpa putusnya membawa ia pada posisinya saat ini.  


 

TEKS BIOGRAFI MANTAN WAKIL PRESIDEN MOH. HATTA

Moh Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, dengan nama lengkap Muhammad Athar. Adapun ayah dari Mohammad Hatta adalah Muhammad Djamil, seorang keturunan ulama Naqsyabandiyah di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sementara itu, ibunya adalah Siti Saleha yang merupakan keturunan pedagang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sejak kecil, Moh Hatta telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan agama Islam. Sebab, kakeknya, Abdurrahman Batuhampar, merupakan seorang ulama besar. Pendidikan Hatta Ketika Hatta berusia 11 tahun, ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu pada 1913. Ia menamatkan sekolah dasar pada 1916. Setelah itu, Hatta melanjutkan pendidikannya ke Europeescha Lagere School (ELS) di Padang.

Pada 1915, ketika berusia 13 tahun, Hatta sebenarnya lulus ujian untuk masuk ke Hoogere Burgerschool (HBS) yang setara SMA di Jakarta. Namun, ibunya menginginkan Hatta tetap berada di Padang karena usianya yang masih sangat muda. Akhirnya, Hatta melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang hingga lulus pada 1919. Setelah itu, Hatta melanjutkan pendidikan ke HBS hingga lulus dengan hasil sangat baik pada 1921. Hatta kemudian melanjutkan pendidikannya ke Rotterdam, Belanda, untuk mempelajari ilmu ekonomi di Nederland Handelschogeschool yang saat ini menjadi Erasmus Universiteit. Aktif di organisasi Sejak bersekolah di Padang, Moh Hatta sudah aktif berorganisasi. Ia tercatat pernah menjabat sebagai bendahara organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Ketika pindah ke Jakarta, Hatta aktif di Jong Sumatranen Bond pusat dengan menjabat bendahara. Sementara itu, ketika berada di Belanda, Moh Hatta tergabung dalam Perhimpunan Hindia atau Indische Vereeniging pada 1922.

Saat itu, Hatta menjabat sebagai bendahara. Pada awalnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908, merupakan ajang pertemuan pelajar asal Indonesia di Belanda. Namun, seiring perkembangan kesadaran dan rasa nasionalisme para mahasiswa asal Indonesia, organisasi tersebut berubah menjadi gerakan politik. Hal itu disebabkan kedatangan tiga tokoh Indische Partij, yakni Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo pada 1913. Sejak saat itu, pemikiran Moh Hatta semakin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah politik. Adapun tokoh politik yang menjadi idola Moh Hatta adalah Abdul Moeis. Pada 1927, Moh Hatta bergabung ke dalam organisasi atau Liga Menentang Kolonialisme di Belanda. Di sana, Hatta bertemu dan bersahabat dengan seorang nasionalis asal India, yakni Jawaharlal Nehru. Aktivitas Hatta di dalam organisasi tersebut menyebabkan ia ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda. Moh Hatta dijebloskan ke penjara di Den Haag, Belanda, pada 23 September 1927 dan baru dibebaskan pada 22 Maret 1928. Ia berhasil bebas setelah menyampaikan pidato pembelaannya yang dikenal dengan judul Indonesia Free. Kembali ke Indonesia Moh Hatta kembali ke Indonesia pada 1932. Begitu sampai di Tanah Air, Hatta kemudian bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia. Organisasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui berbagai pelatihan. Namun, Hatta ditangkap Belanda akibat aktivitasnya di organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia. Moh Hatta ditangkap bersama Sutan Sjahrir pada Februari 1934. Ia kemudian diasingkan ke Boven Digoel, Irian Barat, dan dipindahkan ke Banda Naira di Maluku selama enam tahun. Selain itu, Moh Hatta juga pernah dipenjara di Sukabumi pada 1942 dan bebas pada 9 Maret 1942.

Setelah Belanda menyerah dan Jepang menguasai Indonesia, Moh Hatta bersama Soekarno, Ki Hadjar Dewantara, dan KH Moh Mansyur menjadi pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Menjelang kemerdekaan Indonesia, Moh Hatta dipilih menjadi Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945. Segala pemikiran dan gagasan Hatta dicurahkan untuk mengupayakan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1945, Moh Hatta mendampingi Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Menjadi Wakil Presiden Indonesia Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Moh Hatta terpilih menjadi wakil presiden pertama RI dengan mendampingi Soekarno yang menjadi presiden. Moh Hatta terpilih menjadi wakil presiden melalui sidang PPKI yang digelar di Jakarta pada 18 Agustus 1945. Selain menjadi wakil presiden, Moh Hatta juga sempat merangkap sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan sejak Januari 1948 hingga Desember 1949. Hatta juga pernah merangkap sebagai menteri luar negeri dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) sejak Desember 1949 hingga Agustus 1950.

Pada akhirnya, Moh Hatta mundur dari kursi wakil presiden pada 1 Desember 1956 setelah 11 tahun menjabat. Akhir hayat Moh Hatta mundur dari jabatan sebagai wakil presiden Indonesia karena perbedaan pandangan politik dengan Soekarno. Setelah itu, Hatta lebih sering berada di balik layar dalam kehidupan politik Indonesia. Ia menerbitkan buku Demokrasi Kita untuk mengkritik kebijakan politik Soekarno karena dianggap telah melenceng dari dasar-dasar demokrasi. Moh Hatta berada di balik layak dunia politik Indonesia hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.



 

TEKS BIOGRAFI BAPAK PENDIDIKAN INDONESIA : KI HAJAR DEWANTARA

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dengan nama RM Soewardi Soerjaningrat. Merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan ayahnya bernama GPH Soerjaningrat. Ki Hadjar Dewantara pertama kali bersekolah di ELS (Eropeesche Legere School) atau sekolah dasar untuk anak-anak Eropa dan bangsawan yang ada di Indonesia. Beliau bisa masuk ke sekolah ini karena beliau adalah anak bangsawan. Beliau lahir di dalam sebuah keluarga keraton, dari pasangan Gusti Pangeran Harya Surjaningrat dan cucu dari Pakualaman III.

Setelah lulus dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia yang sekarang jadi Kedokteran Universitas Indonesia. Siapa yang pengen masuk Kedokteran UI, cung! Biar samaan sama Ki Hadjar Dewantara. Beliau itu adalah bagian dari orang-orang Indonesia yang mengusir penjajah. Ets tentunya dengan pemikirannya, lho. Beliau masuk organisasi pergerakan Boedi Oetomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo. Selanjutnya membuat suatu organisasi bersama temannya Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang terkenal dengan nama tiga serangkai.

Ki Hadjar Dewantara gencar mengkritik Belanda. Beliau sering membuat tulisan yang menyentak pemerintahan Belanda lewat berbagai surat kabar. Seperti tulisannya  “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang membuat beliau diasingkan ke negeri Belanda. Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri sekolah Nationaal Onderwijs Taman Siswa atau yang sekarang kita kenal dengan Taman Siswa. Sekolah Taman Siswa pertama didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada bulan Juli tahun 1922.  Nah, sekolah ini nih yang nerapin sistem pembelajaran yang asik tadi.

Sistem pendidikan tersebut dilakukan secara informal dengan menekankan keterampilan tradisional dan nilai-nilai kehidupan orang Jawa, terutama pada musik dan tarian tradisional. Mata pelajaran yang berasal dari Barat juga diajarkan beliau agar membantu siswa mengatasi tuntutan kehidupan modern saat ini. Sistem yang dibuat Ki Hadjar Dewantara ini menghasilkan banyak sekali keuntungan untuk bangsa Indonesia. Selain masyarakatnya diajari untuk menjadi terdidik dan tidak ketinggalan zaman, ia juga menciptakan sistem pembelajaran berbasis kebudayaan untuk tetap mempertahankan kebudayaan asli Indonesia.

Gaes, yang dimaksud dengan berbasis kebudayaan itu adalah, dalam sistem pembelajarannya murid diajarkan tentang apa saja yang ada di Indonesia, seperti budaya, bahasa, dan banyak hal lagi tentang ke-Indonesiaan. Hal ini ditujukan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme dari peserta didik. Nah, pembelajaran terkait kebudayaan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme ini yang menjadi tombak perjuangan orang-orang indonesia untuk mengusir Belanda. Karena ini juga keberadaan Taman Siswa ditakuti oleh pemerintahan Belanda. Kamu tahu gak sih kalau sekolah Taman Siswa itu sudah menyebar ke seluruh nusantara pada akhir tahun 1930-an? Jadi, sistem pendidikan Taman Siswa ini sudah menyebar ke seluruh penjuru Nusantara sekitar 8 tahun setelah didirikan karena, sistem pendidikan taman siswa memang diperuntukkan untuk pribumi yang pada masa itu juga masih sedikit dapat mengenyam bangku pendidikan. Dia merasa bahwa pendidikan adalah sebuah cara terbaik untuk memperkuat orang Indonesia, dan ia sangat dipengaruhi oleh banyak teori yang melandasi cara berpikirnya. Salah satunya adalah pemikir teori pendidikan reformis dari Italia, Maria Montessori. Dia juga banyak dipengaruhi oleh penyair dan filsuf asal India yakni Rabindranath Tagore.

Pemikiran yang diambil dari Maria Montessori adalah terkait pendidikan usia dini. Hal yang diterapkan pada pendidikan Montessori adalah bagaimana peserta didik memiliki kebebasan dalam belajar, tempat belajar yang menyenangkan dan dapat membangun karakter peserta didik dengan metode bernyanyi dan menari.Sedangkan pemikiran dari Tagore diambil oleh Ki Hadjar Dewantara dari sisi konsep kebebasan dan merdeka yang beliau terapkan dalam sistem pembelajaran Taman Siswa. Disini siapa yang suka belajar tanpa tekanan? atau punya kebebasan berpikir apapun? suka dong tentunya. Gak ada lagi dimarahin guru, atau takut belajar di sekolah. Setelah banyak membantu masyarakat Indonesia dalam mengenyam pendidikan, dan setelah indonesia merdeka, beliau diangkat menjadi menteri pendidikan oleh presiden Soekarno. Karena ketulusan hatinya untuk membangun bangsa Indonesia dengan pemikirannya dan jerih payahnya membuat sistem pendidikan, Beliau dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional

Banyak yang beliau lakukan untuk bangsa ini. Tugas kita sekarang adalah terus belajar dan menjadi orang yang cerdas dan berbudi luhur seperti cita-cita Ki Hadjar Dewantara yang menginginkan seluruh masyarakat Indonesia menjadi cerdas. Tapi nih tapi, sistem pembelajaran di atas, yang sudah dijelaskan panjang lebar ini kok nggak kerasa ya di sistem pendidikan sekarang? Nah, itulah yang terjadi di sistem pembelajaran Indonesia sekarang ini. Sistem pendidikan di Indonesia memang memiliki kesamaan dengan sistem yang dibuat Bapak Pendidikan Nasional lho tapi, cuman di jargon “Tut Wuri Handayani” saja, itu lho yang ada di topi atau di bet sekolah.

Secara keseluruhan pendidikan di Indonesia sudah jauh dari apa yang diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Sistem yang ada sekarang adalah sistem yang sudah banyak mengadopsi berbagai sistem pembelajaran di berbagai negara. Jadi, jangan bingung nih sama sistem pembelajaran di Indonesia sekarang ini. Kalau kamu masih pusing ngerjain tugas, atau kamu terpaksa belajar suatu pelajaran yang tidak kamu suka. Jadi jangan aneh kalau berbeda dengan sistem pelajaran yang disusun Ki Hadjar Dewantara. Bahkan sistem yang dibuat oleh Ki Hadjar Dewantara ini mirip dengan sistem pembelajaran yang ada di Finlandia. Di sana peserta didik berhak memilih mitat yang mereka sukai. Mereka akan belajar terkait minat mereka dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di sana juga sangat bebas dan merdeka dalam belajar.


 

TEKS BIOGRAFI RA KARTINI : EMANSIPASI WANITA

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat (R.A. Kartini) lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal: 21 April 1879. Ayah beliau bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari garis keturunan ayahnya merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI bahkan jika ditelusuri ke atas merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit, sedangkan ibu Bernama M.A. Ngasirah, bukan berasal dari keturunan bangsawan melainkan hanya rakyat biasa, anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Jepara.

R.A Kartini memperoleh pendidikan lantaran mewarisi darah bangsawan dari ayahnya. Dia disekolahkan di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun sembari mempelajari berbagai hal, termasuk bahasa Belanda. Di masa itu, ada kebiasaan yang turun-temurun dilakukan. Anak perempuan yang sudah berusia 12 tahun harus tinggal di rumah untuk dipingit.

Dalam keadaan dipingit, keinginan belajar R.A Kartini tak serta-merta surut. Kemampuan bahasa Belanda yang dimilikinya digunakan untuk membaca buku bahkan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satu yang kerap dijadikan kawan bercerita adalah Rosa Abendanon. Dari komunikasinya dengan Abendanon, timbullah ketertarikan untuk berpikir maju seperti perempuan Eropa. Dia hendak memajukan perempuan pribumi yang kala itu banyak dibatasi oleh adat istiadat kuno. Pengetahuan Kartini terkait ilmu pengetahuan dan kebudayaan juga cukup luas.

Pada 12 November 1903, Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Setelah menikah, sang suami mendukung penuh mimpi-mimpi Kartini, salah satunya untuk membangun sebuah sekolah khusus wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Hanya berselang empat hari melahirkan, Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904. RA Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Usai kematiannya, surat-surat Kartini dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul 'Door Duisternis tot Licht' atau Habis Gelap Terbitlah Terang oleh salah satu temanya di Belanda, Mr JH Abendanon, yang saat itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku ini diterbitkan pada 1911 dengan bahasa Belanda sehingga tak banyak warga pribumi yang bisa membacanya. Kemudian pada 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi terjemahan buku Habis Gelap Terbitlah Terang: Buat Pikiran dengan bahasa Melayu. 

Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sukarno juga menetapkan hari lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini sampai sekarang.




 

TEKS BIOGRAFI XAVIERA ALUMNI CLASH OF CHAMPIONS RUANGGURU

Biografi Xaviera Putri Ardianingsih menjadi perhatian publik sebagai contoh sukses yang inspiratif di dunia pendidikan yang semakin bersaing. Perempuan muda asal Indonesia ini telah meraih beasiswa luar negeri yang bergengsi, membuka pintu menuju pendidikan berkualitas tinggi di tingkat global. Perjalanan Xaviera menuju pencapaian ini adalah kisah tentang tekad, kerja keras, dan mewujudkan impian.

Xaviera Putri Ardianingsih lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di Indonesia. Ia telah menunjukkan minat yang kuat dalam pendidikan sejak kecil. Xaviera adalah salah satu siswa terbaik di kelasnya, dan dia sangat ingin tahu dan tekun. Keluarga dan guru-guru Xaviera memainkan peran penting dalam membangun fondasi akademis yang kuat baginya. Xaviera berpartisipasi dalam banyak kegiatan ekstrakurikuler selain prestasi akademiknya. Ia berpartisipasi dalam kelompok teater sekolah, olimpiade sains, dan klub debat. Selama perjalanan akademisnya, Xaviera memperoleh keterampilan komunikasi, kerja sama tim, dan kepemimpinan yang sangat bermanfaat dari keterlibatannya dalam berbagai organisasi.

Prosesnya rumit. Xaviera harus melalui serangkaian tes dan wawancara, serta menulis esai. Persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan Xaviera. Ia menggunakan bimbingan guru, kursus persiapan, dan informasi dari internet. Selain itu, Xaviera aktif mencari informasi tentang berbagai beasiswa yang tersedia dan menyesuaikan pilihannya dengan minat dan tujuan akademiknya. Setelah berhasil mendapatkan beasiswa, Xaviera melanjutkan studinya di salah satu universitas terkemuka di luar negeri, di mana ia mengambil jurusan yang sesuai dengan minatnya dan terus menunjukkan prestasi akademik yang gemilang. Pengalaman belajar di luar negeri membantu Xaviera memperluas pengetahuannya, memperluas jaringan internasional, dan memperoleh perspektif global. Kesuksesan Xaviera menginspirasi banyak orang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dia terlibat dalam berbagai program dan inisiatif sosial. Xaviera bertekad untuk berbagi pengetahuannya untuk kemajuan bersama karena dia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah dunia. 

Xaviera Putri Ardianingsih adalah bukti luar biasa bahwa harapan besar dapat dicapai dengan kerja keras, dedikasi, dan bantuan yang tepat. Selama perjalanannya untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri, dia menginspirasi generasi muda untuk terus berusaha dan mencapai impian mereka. Kisah Xaviera adalah bukti bahwa pendidikan yang baik dapat membuat masa depan lebih baik bagi orang-orang dan masyarakat secara keseluruhan.


 

TEKS BIOGRAFI MAUDY AYUNDA

Maudy Ayunda lahir di kota Jakarta, pada 19 Desember 1994. Maudy merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Didit Jasmedi R. Irawan dan Muren Mudjoko Jasmedia. Adiknya bernama Amanda Khairunnisa. Maudy Ayunda mulai terjun ke dunia entertainment pada saat berusia 12 tahun berperan sebagai peran utama dalam memerankan film "Untuk Rena" pada tahun 2005. Seusai film tersebut, Maudy sempat beristirahat dari dunia entertainment karena Maudy ingin lebih fokus pada pendidikan. Namun, pada tahun 2009 Maudy kembali aktif dalam dunia entertainment, Maudy membintangi film yang berjudul "Sang Pemimpi". Maudy memiliki kemampuan akting yang luar biasa dan Maudy berhasil membintangi lebih dari 13 film hingga saat ini.

Tak hanya di dunia peran, Maudy juga menjajal dunia tari suara. Pada 2011, Maudy merilis album perdananya bertujuk "Panggil Aku" yang berisi 10 lagu. Di tahun 2014, Maudy berduet dengan David Choi, salah satu penyanyi Amerika, untuk merilis lagu "By My Side". Maudy menciptakan lagu "Tetap Bersama" di dalam album itu. Empat tahun kemudian, Maudy merilis album kedua berjudul "Moments", album tersebut sukses mendapatkan predikat platinum karena berhasil terjual sebanyak 200 ribu hanya dalam jangka waktu 2 setengah bulan. Kemudian Maudy juga merilis lagi album yang berjudul "Moments" pada tahun 2015 dan album berjudul "Oxygen" pada tahun 2018. Banyak orang menyukai karya lagunya karena suaranya yang merdu dan khas. Selain membuat album solo, Maudy juga mengisi soundtrack dalam film yang ia pernah perankan.

Maudy Ayunda juga merupakan seorang penulis buku. Saat kecil, Maudy pernah menulis sebuah buku cerita anak yang terdiri dari 4 series dan berhasil diluncurkan. Buku tersebut dilengkapi oleh ilustrasi-ilustrasi untuk anak. Pada tahun 2018 juga ia berhasil menerbitkan bukunya yang berjudul "Dear Tomorrow".  Selain berprestasi dalam dunia seni dan entertainment, Maudy juga berprestasi dalam dunia pendidikan. Selama masa sekolahnya dulu, Maudy termasuk salah satu anak pintar dan aktif. Saat duduk di bangku SMA, Maudy pernah menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Setelah lulus sekolah, Maudy berhasil diterima di beberapa universitas ternama dunia. Maudy sempat bingung untuk memilih universitasnya, namun setelah mempertimbangkan, Maudy memilih Oxford University dan ia lulus mendapatkan predikan cumlaude hanya dalam waktu 3 tahun. Setelah itu Maudy melanjutkan pendidikan S2 di Stanford University dan berhasil lulus pada Juni 2021 lalu.

Dari perjalanan Maudy Ayunda yang sukses dalam bidang entertainment maupun pendidikan, menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang banyak terutama anak-anak muda. Maudy Ayunda selalu memberikan motivasi agar selalu berjuang dalam menggapai mimpi.


 

TEKS BIOGRAFI BELVA DEVARA

 

Adamas Belva Syah Devara, yang lebih dikenal sebagai Belva Devara, lahir di Jakarta pada 30 Mei 1990 dari pasangan Tri Harsono dan Murni Hercahyani, yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Belva menempuh pendidikan dasar di SD Tunas Jaka Sampurna, kemudian melanjutkan ke SMP Al Azhar 4, dan akhirnya masuk ke SMA Presiden. Saat di SMA, Belva menunjukkan bakat kepemimpinannya dengan menjabat sebagai Ketua OSIS.

Pada tahun 2007, Belva berhasil meraih beasiswa penuh dari pemerintah Singapura untuk melanjutkan pendidikan di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Ia termasuk salah satu dari delapan siswa Indonesia yang terpilih untuk beasiswa ini. Di NTU, Belva mengambil program double degree dalam bidang Computer Science dan Business, yang menekankan perpaduan teknologi dan ilmu bisnis. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Belva melanjutkan ke tingkat magister. Pada tahun 2013, ia diterima di program double degree di Harvard University dan Stanford University, menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan kesempatan ini. Belva mengambil Master of Public Administration di Harvard dan Master of Business Administration di Stanford. Selain itu, ia juga sempat menjadi mahasiswa tamu di Massachusetts Institute of Technology (MIT) serta mengikuti kelas di beberapa fakultas lain, seperti Harvard Law School, Harvard Medical School, dan Harvard Graduate School of Education.

Saat masih berkuliah, Belva mengumpulkan pengalaman bekerja di berbagai perusahaan dan instansi, termasuk sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company dan di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengalaman ini menginspirasi Belva untuk mendirikan perusahaannya sendiri, terutama dalam bidang pendidikan yang menjadi fokus perhatiannya.

Pada tahun 2014, Belva bersama rekannya, Iman Usman, mendirikan Ruangguru, sebuah perusahaan teknologi pendidikan (edtech) yang berfokus pada misi sosial dan transformasi sistem pendidikan di Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat, Belva kembali ke Indonesia dan memimpin Ruangguru sebagai CEO. Di bawah kepemimpinannya, Ruangguru berkembang pesat dan menjadi perusahaan teknologi pendidikan terbesar di Indonesia.

Atas dedikasi dan inovasinya, Presiden Joko Widodo menunjuk Belva sebagai salah satu dari tujuh staf khusus presiden pada 2019. Belva menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Inovasi, posisi yang dipegangnya hingga tahun 2020, untuk mendukung inovasi dan transformasi pendidikan di Indonesia.


BIOGRAFI JEROME POLIN

 

Jerome Polin Sijabat yang sering disapa dengan panggilan Jerome Polin lahir di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1998. Ia merupakan putra kedua dari pasangan Marojahan Sintong Sijabat dan Chrissie Rahmeinsa. Ayah Jerome adalah seorang pendeta, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Pada tahun 2004, keluarga Jerome pindah ke kota Surabaya, Jawa Timur. Setelah pindah ke Surabaya, Jerome bersama saudaranya Jehian Panangian Sijabat mengeyam pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Sekolah Intan Permata Hati, Surabaya, dengan mendapat beasiswa. Pada tahun 2013, Jerome mengeyam jenjang sekolah menengah atas di SMA Negeri 5 Surabaya.

Seperti anak muda lainnya, Jerome memiliki cita cita di masa depan. Siapa sangka jika ia ingin menjadi Menteri Pendidikan suatu hari nanti.  Melalui cita citanya, ia berharap dapat memberikan yang terbaik bagi negara tercinta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, hingga mampu bersaing baik dengan negara lainnya.  Ketika berada di kelas 2 SD, Jerome berkeinginan untuk berkuliah di luar negeri. Agar dapat mewujudkan cita-citanya untuk bisa sekolah di luar negeri, Jerome Polin sejak awal menduduki bangku Sekolah Menengah Atas telah Menyusun dan membuat rencana untuk dapat mengikuti ajang olimpiade dan menjadi siswa yang berprestasi. Dengan pencapaian tersebut, ia berharap memperoleh beasiswa dan menempuh pendidikan di luar negeri.  Setelah lulus SMA, keinginan untuk kuliah di luar negeri tersebut mengalami kendala karena orang tuanya memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga Jerome mencoba mengambil program beasiswa. Mulanya, Jerome mengikuti ujian seleksi program beasiswa ke Universitas Teknologi Nanyang Singapura di Jakarta. Dua bulan setelah tes, Jerome dinyatakan lulus seleksi namun hanya memperoleh setengah beasiswa. Karena jumlah beasiswa yang akan diterima tidak penuh, Jerome membatalkan mengambil beasiswa ke Singapura.

Namun kegagalan dalam mendapatkan beasiswa full di Singapura tidak lantas membuat Jerome menyerah. Hal tersebut justru memicu semangatnya untuk mendapatkan beasiswa di universitas lain. Saat itu Jerome mencoba mengikuti program beasiswa dari sebuah perusahaan asal Jepang, yakni Mitsui–Bussan, yang bisa memberikan beasiswa penuh. Jerome kemudian mengikuti ujian seleksi tersebut dan dinyatakan lulus untuk mendapat beasiswa dari program Mitsui–Bussan Scholarship dan berkuliah di Universitas Waseda, Shinjuku, Tokyo, Jepang jurusan Matematika Terapan. Jerome Polin menjadi satu dari dua orang yang terpilih mendapatkan full scholarship untuk berkuliah di Waseda University, Jepang.

Meskipun akhirnya menempuh pendidikan jurusan matematika, rupanya Jerome kecil sempat tidak menyukai pelajaran matematika. Namun, suatu waktu pemikirannya berubah ketika sang Ibu Chrissie memberikan sebuah perumpamaan ke Jerome bahwa matematika itu ibarat permainan bajak laut. Ketika kamu bisa memecahkan kode maka kamu dapat mendapatkan harta karun. Dari situlah pandangan Jerome Polin terhadap matematika menjadi berubah dan semakin lama menjadi menyukai hingga digeluti untuk jenjang Pendidikan S1.  Jerome dikenal setelah memulai kanal YouTube bernama Nihongo Mantappu pada bulan Desember 2017 yang membagikan kehidupan pribadinya sebagai mahasiswa Indonesia di Jepang. Jerome membuat konten vlog cara belajar bahasa Jepang, matematika, dan kesehariannya selama berada di Jepang. Kanal ini mendapatkan Silver Play Button pada tahun 2018 dan Gold Play Button pada tahun 2019. Selain mengembangkan kanal YouTube, pada bulan April 2021, Jerome bersama sang kakak, Jehian membuka jejaring bisnis teh buah yang diberi nama Menantea dan masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia pada April 2021. Serta berhasil menerbitkan Buku berjudul Nihongo Mantappu yang diterbitkan pada tahun 2019


Teks Biografi Najwa Shihab

Najwa Shihab (lahir 16 September 1977) adalah seorang pemeran dan wartawan Indonesia berdarah campuran Bugis dan Arab. Ia adalah putri kedua dari mantan Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII Quraish Shihab dan keponakan dari mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Najwa masuk ke dalam daftar Asia's Most Influential oleh majalah Tatler pada tahun 2023.  Awalnya merintis karier sebagai wartawan magang di RCTI, pada tahun 2000 dia memilih bergabung dengan MetroTV karena lebih mendukung minatnya terhadap jurnalisme. Dari menjadi reporter di Metro TV, dia kemudian diangkat menjadi anchor dalam sejumlah program berita prime time seperti Metro Hari Ini dan Suara Anda, sebelum memiliki program gelar wicara sendiri yang dinamakan Mata Najwa pada tahun 2009. Pada bulan Agustus 2017, di episode "Catatan tanpa Titik", dia resmi mengundurkan diri dari Metro TV. Pada tanggal 10 Januari 2018, Najwa Shihab melalui Mata Najwa tampil kembali di Trans7. Pada tahun 2018, Najwa Shihab mendirikan Narasi, perusahaan berita dan media omni-channel yang membuat dan mengelola beberapa jenis konten.

Najwa adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan tahun 1996. Semasa SMA, dia terpilih mengikuti program American Field Service, yang di Indonesia dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Amerika Serikat. Najwa Shihab ditunjuk sebagai Duta Baca Indonesia (2016-2020) oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dengan tugas utama menyebarkan minat baca ke penjuru negeri. Selain Duta Baca Indonesia, Najwa juga menjadi Duta Pustaka Bergerak. Jaringan literasi yang mendedikasikan untuk membangun perpustakaan bergerak, dari satu wilayah ke wilayah lain, dengan sarana prasarana sederhana. Dalam program tersebut, ada pihak-pihak yang menyebarkan buku memakai kuda, pedati, perahu, vespa, dan sebagainya. Tugas Najwa adalah membangun kepedulian terhadap buku dan gerakan membaca, menyebarkan bahan bacaan ke berbagai penjuru negeri, dalam upayanya meningkatkan minat baca di Indonesia.

Najwa mulai membawakan acara gelar wicaranya sendiri yang berjudul Mata Najwa di Metro TV pada tanggal 25 November 2009. Acara ini ditayangkan setiap hari Rabu pukul 8 malam WIB hingga pukul 21.30 WIB. Beberapa tamunya antara lain mantan presiden B.J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, mantan wakil presiden Boediono dan Jusuf Kalla serta kemudian mantan Gubernur JakartaJoko Widodo.[7][8][9][10] Acaranya berakhir pada 23 Agustus 2017 di Metro TV karena dia memutuskan untuk keluar dari saluran tersebut. Dia dan Mata Najwa kembali ke televisi tetapi di saluran yang berbeda, Trans7, pada 10 Januari 2018. Pada bulan Oktober 2020, Najwa dilaporkan ke polisi oleh Ketua Relawan Persatuan Jokowi, Silvia Devi Soembarto karena aksinya mewawancarai kursi tamu kosong yang seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada acara Mata Najwa edisi 28 September 2020. Melalui akun Instagramnya, Najwa menyatakan bahwa wawancaranya tersebut disengaja agar para pejabat publik, khususnya Terawan yang hilang dalam aksi, menjelaskan kebijakannya dalam penanganan pandemi COVID-19 dan bahwa penjelasannya tidak harus dilakukan di acaranya. Wawancara dengan kursi kosong ini merupakan yang pertama di Indonesia dan Najwa menganggap tindakannya masih merupakan bentuk jurnalisme seperti yang dilakukan oleh jurnalis di Inggris dan Amerika Serikat juga.  

Pada tahun 2005, ia memperoleh penghargaan dari PWI Pusat dan PWI Jaya untuk laporan-laporannya dari Aceh, saat bencana tsunami melanda kawasan itu, Desember 2004. Liputan dan laporannya dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusiaan itu  Tahun 2006 ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV, dan masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards. Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih menjadi peserta Senior Journalist Seminar yang berlangsung di sejumlah kota di AS, dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association. Tahun 2007, pengakuan terhadap profesionalisme Najwa tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga mancanegara. Terbukti, selain kembali masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards, ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang yang lebih bergengsi di tingkat Asia, yaitu Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affairs/Talkshow Presenter. Pengumuman pemenang dilangsungkan pada bulan November 2013 di Singapura. Jika pada Panasonic Awards pemenang dipilih dari jumlah sms terbanyak, maka penentuan pemenang pada Asian TV Awards dilakukan oleh panel juri yang beranggotakan TV broadcaster senior dari berbagai negara di Asia.

Salah satu acara yang dipandu Najwa Shihab dan cukup membekas di benak publik, adalah debat kandidat Gubernur DKI Jakarta. Debat yang mempertemukan pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar itu diselenggarakan oleh KPUD DKI Jakarta, disiarkan secara langsung oleh Metro TV dan Jak TV. Najwa terpilih sebagai pemandu debat menyisihkan sejumlah pembawa acara yang diseleksi KPUD DKI Jakarta. Lantaran memutuskan untuk secara total terjun di dunia jurnalistik dan TV broadcast, Najwa terus-menerus berupaya memperkuat dan memperkaya wawasan keilmuannya. Pada awal 2008, ia terbang ke Australia sebagai peraih Full Scholarship for Australian Leadership Awards dan mendalami bidang hukum media. Pada tahun 2015, kembali Najwa Shihab masuk sebagai nominasi Presenter Berita Terbaik Panasonic Awards, walaupun pada akhirnya Putra Nababan yang diputuskan sebagai pemenang. Selain itu juga, Najwa Shihab yang kerap di panggil dengan Sebutan "Nana" tersebut. Pada tahun 2018 silam, ternyata dirinya membuka sebuah perusahaan sendiri di bidang digital content yang bernama Co-founder PT Narasi Citra Sahwahita.


Teks Biografi Dokter Sutomo, Pahlawan Nasional Asal Nganjuk yang Menggagas Berdirinya Budi Utomo

Sutomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888, dengan nama kecil Soebroto. Sutomo lahir dari keluarga priy...