A. PENGERTIAN PUISI
Puisi merupakan salah satu karya
sastra, selain prosa dan drama. Sebagai sebuah karya sastra, puisi ditulis
seseorang untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaannya dalam bentuk
kata-kata yang indah. Kata-kata dalam puisi cenderung bersifat kiasan dan
disampaikan dengan teknik figuratif. Tujuannya adalah untuk menciptakan
suasana-suasana yang mampu menggugah imajinasi, perasaan, dan keindahan bagi
pembacanya. Dalam puisi, kata-kata dipilih sedemikian rupa secara selektif agar
dapat memunculkan efek tertentu dan menampung makna yang menggambarkan pikiran,
gagasan, dan perasaan penyair. Pemilihan katakata atau diksi juga harus
mempertimbangkan irama, rima, larik, bait, dantipografi (bentuk) puisi. Oleh
karena itulah, unsur bahasa dalam puisi dianggap lebih padat jika dibandingkan
dengan karya sastra lainnya.
Untuk lebih memahami pilihan kata/diksi,
berikut beberapa contoh telaah diksi dalam puisi.
a. Majas
( Bacalah puisi berjudul “Padamu Jua”
—Karya Amir Hamzah)
Pada bait pertama puisi “Padamu Jua”
terdapat larik /Segala cintaku hilang terbang/. Hal itu menunjukkan adanya
majas metafora, yaitu kiasan yang bersifat langsung, tetapi tidak menggunakan
kata-kata pembanding misal bagai, bak, dan seperti. Pada baris tersebut, cinta
dikiaskan seperti burung yang dapat terbang. Majas metafora juga terdapat pada
bait kedua, yaitu di baris /Engkaulah kandil kemerlap/. Pada larik tersebut, si
engkau dikiaskan sebagai pelita/lampu cahaya yang terang dalam kegelapan.
Selain itu, pada bait kelima terdapat majas metafora dalam baris /engkau
ganas/mangsa aku dengan cakarmu/. Penyair mengiaskan si engkau seperti binatang
buas yang mempunyai cakar dan hendak memangsa.
Selain metafora, puisi “Padamu Jua”
juga mengandung majas personifikasi, seperti yang terdapat dalam baris /Pelita
jendela di malam gelap/ melambai pulang perlahan/ atau /Kasihmu sunyi/menunggu
seorang diri/. Personifikasi merupakan kiasan yang mempersamakan sesuatu dengan
manusia yang dapat berbuat, melakukan suatu hal, dan sebagainya. Dalam puisi
“Padamu Jua” di atas, terdapat juga majas simile, yaitu perbandingan atau
perumpamaan yang menyamakan suatu hal dengan hal lain. Kata-kata pembanding:
bagai, bak, seperti, seumpama, dan laksana. Contoh simile terdapat pada baris
/Engkau pelik menarik ingin/serupa dara di balik tirai/.
b. Citraan
Pengimajian atau citraan merupakan
kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan efek khayalan atau imajinasi pada
diri pembaca. Dengan begitu, seolah-olah pembaca ikut merasakan, mendengar,
melihat, meraba, dan mengecap sesuatu yang diungkapkan dalam puisi (Pradopo,
2012: 80). Berikut ini penjelasan macam-macam citraan.
1) Citraan
penglihatan merupakan susunan kata yang mampu memberi rangsangan pada indra
penglihatan. Karena itu, hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah
terlihat. Contohnya tampak pada baris/Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan
daun-daun hujan/berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan/.
2) Citraan
pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra
pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau
menguraikan bunyi suara. Citraan pendengaran terlihat dalam baris /aku
mendengar suara ricik air sungai yang ngalir/di antara batu-batu dan batang
pohonan/yang rubuh ke ciwulan/. Larik-larik tersebut menimbulkan citraan
pendengaran berupa efek yang menimbulkan imajinasi suara yang didengar.
3) Citraan
penciuman atau disebut juga citraan olfactory ialah susunan kata yang
menimbulkan efek seakan-akan pembaca ikut mencium bau sesuatu. Sebagai contoh,
diksi bau mesiu, bau mayat, dan bau kotoran dalam puisi menimbulkan khayalan
indra penciuman pada pembaca.
4) Citraan
perabaan terkait dengan indra perabaan (kulit). Gambaran rasa pada indra peraba
yang muncul dalam imajinasi pembaca dapat tergolong sebagai citraan perabaan.
Hal ini mencakup berbagai rasa seperti perih, lembut, kasar, panas, dingin, dan
sebagainya. Contoh citraan perabaan dalam puisi ditunjukkan dengan kata-kata
mengusap pundak/angin terasa dingin/cahaya bulan menyentuh miring/.
5) Citraan
gerak atau kinestetik dalam puisi membuat pembaca seakan ikut merasakan atau
mengikuti gerakan tertentu. Sebagai contoh, dalam puisi “Diponegoro” karya
Chairil Anwar sosok pahlawan digambarkan bergerak melalui efek imajinasi pembaca
dengan susunan kata-katanya, seperti /hidup kembali/di depan sekali tuan
menanti/tak gentar/maju/serbu/serang/terjang/.
6) Citraan
pengecapan berhubungan dengan indra pengecap rasa pada lidah. Efek yang
ditimbulkan citraan pengecapan, yaitu seakan-akan pembaca bisa mengecap rasa
yang disampaikan dalam puisi. Citraan ini diungkapkan melalui kata-kata,
seperti manis, pahit, asam, pedas, kecut, asin, dan sejenisnya.
c. Kata Konkret
Secara umum, kata konkret adalah kata
yang rujukannya lebih mudah ditangkap oleh indra. Konkret dapat berarti nyata,
berwujud, atau benarbenar ada. Berikut contoh analisis kata konkret dalam puisi
“Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Terdapat beberapa kata pada
puisi di tersebut yang dapat digolongkan sebagai kata konkret, di antaranya
hujan, jalan, dan pohon bunga. Kata hujan dapat mengonkretkan maksud penulis
untuk manusia yang selalu jatuh atau menangis.
Hal ini dibuktikan dengan larik
selanjutnya yang menyebutkan bahwa sosok hujan sangat tabah. Ia menyembunyikan
perasaan rindunya pada pohon yang berbunga. Kata jalan juga dapat tergolong
sebagai kata konkret karena dapat diartikan sebagai kehidupan atau kisah hidup.
Hal ini tampak pada larik selanjutnya, yaitu /dihapuskan jejak-jejak
kakinya/yang ragu-ragu di jalan itu/. Ungkapan ini dapat bermakna seseorang
yang melupakan kisah masa lalunya. Adapun kata pohon bunga dapat mengonkretkan
wujud atau sosok seseorang atau sesuatu yang dirindukan atau dinginkan. Kata
bunga juga dapat dimaknai sebagai seseorang yang cantik atau perempuan yang
diharapkan.
d. Kata Konotatif
Kata konotatif merupakan kata-kata
yang berasosiasi. Asosiasi merupakan keterkaitan makna kata dengan hal lain di
luar bahasa. Dalam hal ini, makna konotatif timbul sebagai akibat asosiasi
perasaan kita terhadap kata yang dibaca, diucapkan, atau didengar. Berikut
contoh kata konotatif dalam puisi “Candra” karya Sanusi Pane.
Dalam puisi di tersebut, terdapat
larik kuda bernafaskan nyala. Kata nyala umumnya mengikuti kata api atau
sebagai penjelas kata api. Kata nyala juga dapat diartikan sebagai hidup,
bertenaga, ataupun berkobar. Dalam hal ini, baris /nafas kuda yang menyala/
sebenarnya bermakna sosok kuda yang memiliki semangat berkobar atau kuda yang
kuat bertenaga. Larik berikutnya yang mengandung konotasi adalah/Waktu berhenti
di tempat ini/Tidak berombak, diam semata/. Dalam puisi tersebut, waktu
dikatakan tidak berombak atau dalam keadaan tenang. Kata-kata tersebut tidak
menunjukkan makna sebenarnya, tetapi bermakna tidak ada gangguan, damai, dan
tenteram. Demikian penjelasan gaya bahasa (majas), pengimajian, kata konkret,
dan kata konotatif sebagai pendukung makna yang disampaikan penyair melalui
puisinya.
Puisi memiliki berbaagai macam jenis. Berdasarkan kurun waktunya, dikenal puisi lama (mantra, karmina, gurindam, pantun, puisi, gurindam, syair, talibun, dll) dan puisi baru yang bentuknya tidak lagi terikat seperti puisi lama (balada, elegi, epigram, himne, ode, satire, dll). Berdasarkan isi puisinya dikenal pula jenis puisi naratif, puisi deskriptif, puisi lirik, dan lain sebagainya. Bahkan, belum lama ini, muncul jenis puisi esai yang mengundang kontroversi di kalangan penyair dan pengamat sastra.
Diksi atau pilihan kata merupakan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih penulis puisi untuk menimbulkan efek, makna, dan maksud tertentu dalam puisinya. Dalam puisi “Tapi” di atas, terdapat beberapa kata tertentu yang sangat khas dan mendukung pengungkapan makna dan amanat dari penulis puisi. Hal pertama yang tampak adalah penggunaan kata ganti aku dan kau. Aku merupakan kata ganti pertama tunggal dan kau merupakan kata ganti kedua tunggal. Hal ini menggambarkan isi puisi yang merupakan ungkapan seseorang yang ditujukan secara pribadi untuk orang lain. Adapun gaya bahasa atau majas yang digunakan dalam puisi tersebut menunjukkan adanya majas yang melebih-lebihkan atau hiperbola. Hal ini ditunjukkan dengan si aku yang membawakan resah, darah, mimpi, mayat, dan arwah sebagai persembahan pada seseorang. Perilaku si aku tampak sebagai sesuatu yang berlebihan.
Majas lain yang digunakan dalam puisi ini, yaitu majas repetisi atau pengulangan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengulangan kata /aku bawakan ... padamu/tapi kau bilang .../ yang diulang berkali-kali dalam setiap larik sebagai penegasan. Adanya majas hiperbola dan repetisi dalam puisi tersebut sudah sesuai dengan maksud penulis yang ingin mengungkapkan usaha terus-menerus dan berulang yang dilakukan oleh si aku. Usaha tersebut sudah dilakukan dengan segala kemampuan si aku. Bahkan, si aku sudah memberikan segala yang dimiliki sampai tidak ada tersisa apa pun. Tipografi merupakan cara menata tampilan puisi untuk menciptakan kesan atau makna tertentu. Dalam hal ini, penulis puisi memiliki kebebasan untuk membentuk tampilan puisinya sesuai dengan maksud yang disampaikan dalam puisinya. Adapun secara tipografi (tata wajah), puisi ini tampak berbeda dengan puisi pada umumnya. Puisi “Tapi” ini pada larik atau baris ganjil selalu berada di kiri atau lurus kiri. Akan tetapi, pada larik genap selalu menjorok ke dalam atau dimulai dari tengah. Perbedaan ini menyiratkan adanya pertentangan dalam makna kedua larik tersebut. Hal ini juga menunjukkan adanya ketidaksejajaran antara sosok aku dan kau. Seperti adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
Puisi ini terdiri atas 1 bait dengan 16 larik atau baris. Baris pertama hingga baris ke-14 terdiri atas 4 kata. Adapun baris ke-15 terdiri atas 5 kata dan baris ke-16 terdiri atas satu kata. Dengan demikian, tipografi atau pengaturan wajah puisi tersebut sangat tepat. Tipografi tersebut berfungsi membentuk tampilan visual, memberikan efek keindahan pada bentuknya, serta mendukung makna atau maksud yang terkandung dalam puisi. Dalam hal rima, penyair menggunakan pola rima sejajar. Rima sejajar berarti persamaan bunyi yang terbentuk karena sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik/baris yang sejajar dengan pertimbangan kesamaan makna. Hal ini tampak pada beberapa kata tertentu yang diulang-ulang secara sejajar, seperti kata aku, bawakan, padamu, tapi, dan bilang. Selain itu, katakata tersebut banyak mengandung asonansi bunyi vokal a, u, dan i yang dapat menimbulkan kesan kelembutan, kemerduan, dan keindahan bunyi. Hal tersebut memperkuat efek makna ketekunan, keinginan, dan kepasrahan. Puisi ditulis penyair atas dasar gagasan pokok atau ide dasar tertentu. Ide atau gagasan pokok tersebut disebut tema. Tema puisi merupakan inti dari makna yang ingin disampaikan penyair. Untuk memahaminya, kalian harus melakukan pembacaan yang mendalam karena tema pada umumnya bersifat implisit atau tersirat. Sekalipun demikian, tema puisi dapat ditelusuri dengan mengenali kata-kata tertentu. Berdasarkan tema tertentu, penyair menyusun kata-kata hingga membentuk puisi yang utuh. Dengan demikian, susunan kata-kata akan sangat bergantung pada tema yang dipilih penyair.
Beberapa tema yang sering dipilih dalam berbagai puisi di antaranya ketuhanan, patriotisme, kemanusiaan, kritik sosial, keindahan alam, percintaan, persahabatan, dan pendidikan. Sebagai contoh, puisi Abdul Hadi W. M. yang berjudul “Tuhan, Kita Begitu Dekat” mengandung ide dasar atau bertema ketuhanan. Hal ini tergambar dari penggunaan kata-kata, seperti Tuhanku/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/. Bait tersebut menggambarkan perasaan dekat aku dengan Tuhan seperti api dan panasnya. Tema yang dipilih penyair juga dapat memengaruhi suasana puisi. Suasana adalah hal yang dirasakan dalam jiwa pembaca setelah membaca puisi, misalnya gembira, bahagia, sedih, haru, bimbang, sepi, pasrah, dan sebagainya. Suasana juga berkaitan dengan efek yang ditimbulkan puisi terhadap keadaan batin atau perasaan pembaca. Sebagai contoh, Abdul Hadi W. M. berjudul “Tuhan, Kita Begitu Dekat” yang bertema ketuhanan di atas. Di dalamnya terdapat ungkapan kedekatan aku dan Tuhan dalam analogi /Sebagai api dengan panas/aku panas dalam apimu/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/Kita begitu dekat/Seperti angin dan arahnya/. Melalui hal tersebut, pembaca dapat merasakan suasana khidmat, tenang, dekat, dan merasa erat dengan Tuhan. Setelah melakukan pembacaan yang mendalam terhadap suatu buku antologi puisi, kalian dapat menyampaikan hasil tanggapan dalam bentuk resensi buku. Resensi berisi ulasan suatu buku. Unsur-unsurnya mencakup judul, identitas buku, pendahuluan (orientasi), sinopsis (gambaran singkat isi buku), analisis, evaluasi (kelebihan dan kekurangan, kritik atau saran/masukan). Sebagai panduan, berikut ini langkah-langkah menyusun resensi buku.
1. Tentukan
antologi puisi yang akan kalian resensi
Ada baiknya antologi puisi yang diresensi adalah kumpulan puisi
yang menarik dan berkualitas baik. Selain itu, untuk buku yang diresensi
sebaiknya antologi puisi yang belum pernah diresensi sebelumnya atau terbitan
terbaru agar memiliki nilai kebaruan kepada pembacanya. Sebagai rujukan,
berikut ini tautan beberapa buku antologi kumpulan puisi terbitan Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) yang dapat kalian
unduh secara lengkap.
2. Bacalah
dengan saksama, baik secara umum maupun secara rinci Pembacaan terhadap buku
antologi tersebut dapat dilakukan secara umum maupun detail atau rinci. Untuk
hal yang umum, kalian dapat membaca daftar isi, kata pengantar, sampul depan
dan belakang, serta bagian-bagian buku secara sekilas. Adapun untuk pembacaan
rinci, kalian diharuskan membaca keseluruhan isi buku satu per satu. Melalui
tahap pembacaan ini, kalian diharapkan dapat memahami secara umum keseluruhan
isi buku.
3. Pahami
dan kaji secara mendalam isi buku antologi puisi tersebut Dalam tahap ini,
kalian perlu melakukan kajian secara mendetail terhadap isi buku. Kajian pada
antologi puisi dapat dilakukan melalui analisis terhadap unsur bentuk dan unsur
makna. Dalam kajian unsur bentuk, kalian dapat mengungkapkan pilihan kata
(diksi), tipografi, gaya bahasa (majas), kata konkret, pengimajian, dan rima.
Adapun terkait unsur makna, kalian dapat memaparkan bagian tema, nada suasana,
amanat, dan perasaan yang terkandung dalam antologi puisi tersebut.
4. Tulis
berbagai informasi penting yang terdapat dalam buku sebagai bahan dasar
penulisan resensi Hal-hal yang dapat kalian tulis sebagai dasar penyusunan
resensi adalah hal-hal sebagai berikut.
a. Menuliskan
hal umum tentang buku
Bagian penting dalam tahap ini adalah menulis
identitas buku. Identitas buku mencakup judul buku antologi, penulis, penerbit,
cetakan ke, tempat terbit, tahun terbit, jumlah halaman, dan harga. Kalian juga
dapat menuliskan pendapat atau penilaian secara umum terhadap isi buku tersebut.
b. Membuat
judul resensi
Pemilihan judul resensi sangat penting.
Buatlah judul yang menarik, singkat, padat, jelas, serta mudah dipahami.
c. Membuat
ringkasan/ikhtisar
Untuk membuat ringkasan/ikhtisar buku
antologi, kalian perlu memahami pemetaan atau gambaran umum isi buku antologi
tersebut. Selain itu, kalian juga diharuskan membaca keseluruhan isi buku.
Perhatikan juga pemilahan bab dalam buku tersebut. Apakah buku tersebut dipilah
berdasarkan tema tertentu? Hal ini penting karena ringkasan atau ikhtisar buku
dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pembaca.
d. Menuliskan
hal unik/menarik atau berkesan
Kalian perlu menuliskan hal-hal unik dan
menarik yang terdapat dalam buku tersebut. Hal-hal yang unik dan menarik dapat
menjadi paparan kelebihan buku tersebut. Tulis kesan-kesan setelah membaca buku
tersebut. Apa saja hal-hal istimewa dalam buku tersebut yang tidak dimiliki
oleh buku-buku lainnya.
e. Menuliskan
manfaat buku
Setelah membaca dengan saksama keseluruh isi
buku, kalian perlu merumuskan manfaat atau kegunaan buku tersebut. Khususnya,
sasaran pembaca yang dituju. Apakah buku tersebut sesuai atau sangat bermanfaat
untuk remaja, anak-anak, atau dewasa?
f. Menuliskan
kekurangan dan kelebihan
Cermati pula apa saja kelemahan atau kekurangan
buku tersebut. Kalian dapat membandingkannya dengan buku-buku antologi lain
yang sejenis atau karya sebelumnya. Paparkan pula kelebihan atau keunggulan
yang dimiliki buku antologi puisi tersebut agar penilaian kalian tampak
berimbang.
g. Menuliskan
kritik dan saran
Berdasarkan penilaian kelebihan dan kekurangan
yang diberikan, kalian dapat menyampaikan kritik terhadap keseluruhan isi buku
tersebut. Kritik dapat merupakan penilaian atau pendapat pribadi yang
mengungkapkan hal-hal yang dapat diperbaiki dari suatu karya. Untuk itu, kalian
juga dapat menyampaikan saran perbaikan atau masukan agar karya penulis buku
tersebut dapat lebih baik.
h. Menuliskan
simpulan atau penutup
Bagian simpulan atau penutup merupakan bagian akhir dari tulisan tanggapan yang kalian susun. Oleh karena itu, cermati dengan saksama bagian-bagian yang sudah kalian tulis pada tahap sebelumnya. Rangkailah beberapa paparan atau penjelasan singkat yang menggambarkan keseluruhan isi buku. Berikan penegasan ulang atas paparan yang kalian sampaikan sebagai penutup. Berdasarkan berbagai hal tersebut, berikan rekomendasi berupa penilaian apakah buku antologi tersebut layak dibaca atau tidak serta anjuran untuk siapa buku ini ditujukan. Kalian dapat menyusun bagian simpulan atau penutup dalam format berikut.
5. Susun
dan kembangkan data atau informasi penting di atas menjadi resensi yang utuh
Setelah bagian tahapan-tahapan di atas kalian lewati dengan baik, susunlah
sebuah kerangka. Rangkailah bagian-bagian tersebut menjadi satu kesatuan yang
utuh hingga membentuk tulisan resensi.
6. Lakukan
revisi tulisan jika ada kesalahan atau kekeliruan Hasil tulisan yang sudah
disusun perlu ditelaah kembali untuk mendapatkan sebuah tulisan yang sempurna
dan menarik. Ada baiknya tulisan perlu dibaca oleh orang lain untuk mendapatkan
sudut pandang yang berbeda dan lebih teliti. Revisi atau perbaikan tulisan
mencakup beberapa hal, yaitu ketepatan kata, penulisan tanda baca, penulisan
kata serapan, struktur kalimat, paragraf, dan sebagainya. Berikut ini contoh
daftar periksa untuk mengecek hasil tulisan resensi kalian.
Berikut beberapa hal yang harus kalian
perhatikan dalam pembacaan puisi.
1. Ekspresi/mimik
wajah
Ekspresi atau mimik wajah merupakan
bentuk dan pengaturan tampilan wajah sesuai dengan isi dan nada puisi yang
dibacakan. Ekspresi wajah yang ditampilkan saat membacakan puisi tentu harus
sesuai dengan makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Sebagai contoh, puisi
yang bermakna sedih tentu harus diwujudkan dengan ekspresi wajah yang tampak
sedih.
2. Gerak
tubuh/gestur
Gerak tubuh ialah bagaimana
bagian-bagian tubuh bergeser atau bergerak sesuai dengan penjiwaan dan
pemaknaan terhadap isi puisi yang dibaca. Gerak tubuh meliputi gerakan seluruh
anggota tubuh: kaki, tangan, badan, dan kepala.
3. Lafal/artikulasi
Lafal merupakan kejelasan dalam
pengucapan setiap kata dan huruf. Setiap vokal atau konsonan yang terdapat
dalam setiap kata dalam puisi yang dibacakan harus jelas dan tepat.
4. Tekanan
Tekanan terkait pemberian nada khusus
pada suatu kata, misalnya keras atau lunaknya suara dalam mengucapkan suatu
kata. Pada kata-kata yang ingin kalian tegaskan maknanya dapat diucapkan dengan
nada yang lebih keras dibandingkan dengan kata lainnya.
5. Jeda
dan Tempo
Jeda merupakan pemberhentian
singkat/sesaat pada suatu kata atau baris dalam pembacaan puisi. Pengaturan
jeda yang baik dapat memudahkan untuk memahami makna puisi yang dibacakan.
Karena itu, pengaturan jeda setiap kata, baris, dan bait dalam pembacaan puisi
penting untuk diperhatikan dengan cermat. Sebagai contoh, kalian sebaiknya
tidak memotong kalimat pada bagian susunan kata yang memiliki satu pengertian.
Hal tersebut akan membuat makna puisi yang dibacakan menjadi bias dan janggal
bagi pendengar. Selain jeda, penghentian cepat-lambatnya tempo juga memengaruhi
isi suatu kalimat. Tempo memberikan alunan irama pembacaan puisi.
Kalimat-kalimat puisi yang dialunkan akan terasa merdu jika pemberian temponya
diperhatikan dengan baik.
6. Intonasi
Intonasi ialah tinggi rendahnya nada
pada kalimat atau naik turunnya lagu kalimat. Pengaturan intonasi juga dapat
menghasilkan jenis kalimat yang berbeda.
Pada dasarnya, tidak ada batasan gaya
atau cara membacakan puisi. Gaya atau cara pembacaan puisi bergantung pada
penafsiran makna dan pilihan masing-masing. Akan tetapi, secara umum ada
beberapa gaya yang sering ditampilkan dalam pembacaan puisi, yaitu sebagai
berikut.
1. Pembacaan tekstual
Cara
pembacaan ini memiliki ciri membawa teks puisi di tangan. Pembaca sesekali
masih melihat teks puisi secara langsung. Cara pembacaan puisi ini dapat
divariasikan dengan berbagai gaya atau gerak tubuh, misalnya dengan berdiri,
duduk, bergerak-gerak, dan lain sebagainya.
2. Pembacaan deklamasi
Pembacaan
puisi secara deklamasi berarti teks puisi yang sebelumnya harus dihafalkan
terlebih dahulu. Dalam hal ini, pembacaan puisi tidak membawa teks puisi pada
saat tampil. Pembaca lebih bebas dalam bergerak karena tidak terikat dengan
teks secara visual. Akan tetapi, pembaca harus mampu menampilkan penghayatan
yang lebih baik dibandingkan dengan tanpa membawa teks. Ekspresi, suara, dan
gerak tubuh menjadi hal utama.
3. Pembacaan teatrikal
Dalam
pembacaan teatrikal, pembaca dituntut menampilkan ekspresi, penghayatan, dan
penjiwaan penuh terhadap isi puisi yang dibacakannya. Untuk membantu kualitas
tampilan, pembaca dapat menampilkan puisi melalui berbagai alat bantu dan media
pendukung, misalnya kostum, aksesoris, musik, latar, dan setting panggung.
Penentuan
gaya pembacaan puisi tersebut menjadi pilihan kalian masing-masing. Hal
tersebut dapat didasarkan pada beberapa aspek, misalnya kesiapan diri,
kecocokan dengan puisi, situasi kondisi, dan ketersediaan sarana pendukung. Apa
pun gaya pembacaan puisi yang dipilih, sebaiknya kalian perlu melakukan
beberapa kali latihan untuk mencapai hasil maksimal. Kegiatan latihan dapat
dilakukan dengan beberapa cara, misalnya membacakan puisi di depan cermin,
membaca puisi dengan direkam oleh video, dan membaca puisi di depan teman atau
anggota keluarga. Adapun langkah-langkah pembacaan puisi secara tekstual adalah
sebagai berikut.
1) Berdirilah dengan tenang dan
percaya diri di tempat pembacaan puisi yang sudah disediakan.
2) Hadapkan tubuh pada penonton. Lalu, arahkan
pandangan ke sekeliling. Apabila perlu, berikanlah salam kepada hadirin dengan
hormat.
3) Bacalah terlebih dulu judul dan
nama penulisnya dengan suara dan nada yang jelas/tepat.
4) Berhentilah beberapa saat untuk
menyiapkan napas. Lalu, mulailah pembacaan puisi itu baris demi baris dan bait
demi bait.
5) Selama pembacaan puisi, fokuskan
perhatian pada puisi yang sedang dibaca. Tidak perlu memedulikan hiruk-pikuk
suara atau bunyi lain dari penonton.
6) Ketika pembacaan puisi selesai,
berhentilah beberapa saat. Tetap bersikap tenang, embuskan napas perlahan, lalu
lakukan gerakan menghormat kepada penonton.
7) Setelah itu, tinggalkan tempat pembacaan
puisi dengan sikap yang tenang, wajar, serta tidak perlu tergesa-gesa.
Untuk menambah pengalaman pembacaan puisi yang baik, kalian juga dapat mencermati video penampilan berbagai peserta lomba baca puisi di Youtube. Selain itu, kalian juga dapat mencermati berbagai tips agar kalian dapat tampil secara maksimal.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar